Malam ini masih sama dengan malam sebelumnya, 'menanti'. Namun malam ini aku mulai bertanya pada bulan yang bertengger indah di langit tanpa bintang ditemani dengan mendung yang berkeliaran menutupi hiruk pikuknya kota Surabaya. Masih adakah aku dihatimu? apa aku terlalu bodoh hingga bisa menunggumu selama ini? mungkin tidak terlalu lama, hanya 5 tahun tanpa ada kata dan hanya ditemani kebisuan berkepanjangan. Aku sepertinya mulai lelah menunggumu kak, lelah menunggu mu tanpa ada hal yang pasti dan mungkin saja hatimu telah dimiliki orang lain. aku lelah dengan hujan sedingin es yang selalu diratapi tanpa mau perduli bahwa dibawah sana ada pohon yang tumbang karenanya.
Mungkin kamu benar bulan, hidup itu berjalan terus. Dari timbul sunrise sampai muncul senja , namun aku seakan tak bergerak maju dan terus melangkah di tempat yang sama. Kadang aku terus membaca puluhan tulisan indahnya sampai mataku lelah dan mengantuk, karena dari mana lagi aku tahu kabarnya kalau bukan dari celotehan yang ia tuangkan melalui tulisan. Aku hanya tau di hari-harinya ia tersenyum mengejar masa depannya setelah tak bersamaku, karena darimana aku bisa menanyakan apa yang dia lakukan ketika malam tiba walaupun rasanya ingin menanyakan hal itu.
Aku teringat saat pertemuan ku denganmu 2 hari sebelum aku berangkat kuliah.
"Kamu : Hai, Vin? Gimana kabarmu?"
Aku hanya diam saja dan dengan perasaan gugup menjawab sepotong kata: "baik". Sakit di ulu hatiku belum sembuh kak, belum sembuh karena perkataanmu sendiri dulu saat kita masih bersama. Kenapa dulu kamu harus berkata seperti itu.
"Kamu : Aku sayang sama kamu Vin, kalau kita jodoh pasti kamu tetep jadi milikku. Tetaplah disini,di tempat paling dalam dihatiku. tetaplah tempatkan aku di ruang paling dalam hatimu, hanya aku".
Aku selalu menepati tiap kalimat itu, sampai kamu menyakitiku dan meninggalkanku bahkan hingga kini. Aku tak pernah bisa menyayangi orang selain kamu, sudah kucoba tapi kenapa tak bisa? Setelah pertemuan itu aku pulang sambil menangis, menangis karena pernah menyayangimu setulus hatiku, menangis karena tidak bisa melupakanmu, dan menangis dengan ketidaktahuan kamu tentang perasaanku ini yang tak kunjung hilang. Aku kecewa, kecewa dengan diriku. Ya Rabb, Apa kau menghukumku? kenapa harus dengan hukuman seperti ini? Ya Rabb, aku mohon buat aku lupa dengannya, dengan semua perasaan yang aku pendam selama 5 tahun ini, tolong buat aku lupa......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar